Wednesday, January 21, 2015

Gun Games

Gun Games (Peter Decker and Rina Lazarus #20)
Penulis: Faye Kellerman
Jumlah halaman: 375 halaman
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Harper
Format: mass market paperback
Harga: Rp. 15.000 (diskon Periplus)
Rating Shiori-ko: 3,6/5
Sinopsis:
LAPD lieutenant detective Decker and his wife, Rina, have willingly welcomed fifteen-year-old Gabriel Whitman, the son of a troubled former friend, into their home. While the enigmatic teen seems to be adapting easily, Decker knows only too well the secrets adolescents keep—witnessed by the tragic suicide of another teen, Gregory Hesse, a student at Bell and Wakefield, one of the city’s most exclusive prep schools.

Gregory’s mother, Wendy, refuses to believe her son shot himself and convinces Decker to look deeper. What he finds disturbs him. The gun used in the tragedy was stolen—evidence that propels him to launch a full investigation with his trusted team, Sergeant Marge Dunn and Detective Scott Oliver. But the case becomes darkly complicated by the suicide of another Bell and Wakefield student—a death that leads them to uncover an especially nasty group of rich and privileged students with a predilection for guns and violence. Decker thought he understood kids, yet the closer he and his team get to the truth, the clearer it becomes that he knows very little about them, including his own charge, Gabe. The son of a gangster and an absent parent, the boy has had a life filled with too much free time, too many unexplained absences, and too little adult supervision.

Before it’s over, the case and all its terrifying ramifications will take Decker and his detectives down a dark alley of twisted allegiances and unholy alliances, culminating at a heart-stopping point of no return.



Resensi Shiori-ko:
Pertama kali kenal dengan tulisan Faye Kellerman yakni dari salah satu teman yang dengan membawakan judul Hangman. Setelah selesai membaca petualangan Peter Decker dan Rina Lazarus, menurutku tidak ada salahnya untuk mencoba membaca kasus mereka yang lain. Dan piihanku jatuh pada judul ini. Selain karena masih ada hubungannya dari Hangman, judul ini diobral di situs Periplus.

Gaya Bahasa dan Kosa Kata
Untuk ukuran tulisan berbahasa Inggris dengan genre misteri (kadang aku menyebutnya sebagai "novel kriminal"), Faye Kellerman tidak meletakkan kata-kata yang sulit. Meskipun berhubungan dengan senjata api, tapi istilah dalam dunia tersebut tidak banyak dipakai. Hal tersebut juga selaras dengan bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk menuturkan cerita yang bagiku tidak sulit, mudah dimengerti, dan ringan. Kalau aku boleh bilang, gaya bahasanya terstruktur. 

Dalam cerita sering sekali ditemukan baik kata dalam bahasa gaul ataupun bahasa-bahasa yang kasar. Tapi, untuk ukuran pembaca Indonesia, aku rasa tidak akan jadi masalah karena kata-kata yang ada di dalam buku sudah banyak diketahui. 

Meskipun diksinya tegas, tetapi cukup membuat emosiku sebagai pembaca jadi ikut-ikutan tercampur aduk. Ada bab dimana aku merasa tegang sampai-sampai aku berhenti membaca sejenak (dan memutuskan menyeduh teh untuk menenangkan diri) dan ada bagian dimana membuatku jadi sedikit terharu dengan kisah tokoh Gabe tersebut. Menarik.

Plot
Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu membuat alur cerita lebih enak diikuti. Pembaca jadi bisa melihat dari segala maca aspek. Dimana di sisi lain membuat pembaca ikut serta menebak siapakah dalang di balik permainan yang berbahaya tersebut. Plotnya dimainkan maju. Terkadang mundur yang dibungkus dalam dialog, bukan kalimat-kalimat tak langsung.

Penokohan
Kasusnya memang bermula dari masalah gantung diri seorang remaja, namun tetap saja yang menjadi sentral adalah bocah prodigy, Gabriel Matthew Whitman. Hal ini diindikasikan masih ada kaitannya dengan judul sebelumnya, Hangman. Ditambah pula dengan sosok perempuan Yasmine Nourmand yang membuat cerita ini antara lucu konyol dan cukup mengharukan. 

Sedangkan untuk posisi Peter Drecker masih tetap dominan namun tidak menjadi sentral. Sayang untuk Rina Lazarus, yang berbeda dari Hangman, dimana dalam Gun Games sosok ini tidak  banyak berbuat untuk mendukung tokoh sentral tersebut. Malah terlihat seperti hanya tokoh pembantu.

Untuk tokoh tersangka maupun saksi bagiku juga menimbulkan kecurigaan sendiri-sendiri. Karena permainan kata-kata Faye Kellerman itulah yang mampu membuat pembaca seakan-akan mengerti apa yang ada di pikitran detektif Marge Dunn, Scott Oliver, dan Peter Drecker. Tapi, tersangka memiliki profil yang menarik yang membuatku skeptis bahwa tokoh tersebut benar-benar bersalah (dan itu letak menariknya, bagiku).

pretty much sums up the topic // via www.cartoonstock.com

Yang Menarik
Kasus yang diangkat menjadi kian menarik karena pihak-pihak yang terlibat adalah geng siswa SMA. Permainan spekulasi yang diciptakan oleh Faye Kellerman membuat aku sedikit ngeri karena bisa jadi, hal serupa benar-benar ada di negara kita. Cukup menegangkan ketika polisi akhirnya menemukan mengapa Gregory Hesse memutuskan untuk bunuh diri dan apa yang terjadi sebelum itu.

Seperti judul sebelumnya, Faye Kellerman mampu membungkus ketegangan dengan sangat baik. Dan itu yang aku suka. Pembaca ikut berpikir namun dengan rasa dag-dig-dug.

Yang Disayangkan
Aku tidak menyangka bahwa akan ada beberapa bab khusus yang menjelaskan keintiman tokoh Gabe Whitman dengan Yasmine Nourmand ketimbang kegiatan para tersangka. Memang sih, kisah asmara tersebut berhubungan dengan kasus bunuh diri itu, tapi tetap saja bgiku tidak perlu ada space khusus untuk menuturkan tentang mereka. 

Nah, aku katakan pada poin sebelumnya bahwa aku suka dengan suasana tegang yang diciptakan tapi Faye Kellerman belum bisa membuatku puas dengan bagian akhir cerita. Permasalahan dan anti-klimaksnya memang seru, tapi penyelesaiannya tidak begitu membuat aku tercengang. Datar. Yah, aku hanya merasa kaget pada beberapa baris akhir saja. 

Ketika menyelesaikan kasus tersebut, ternyata masih meninggalkan teka-teki kepada pembacanya. Seperti misalnya bagaimana Myra Gelb dan Gregory Hesse bisa saling mengenal dan bagaimana kedua kasus tersebut bisa saling berhubungan. Atau, apakah yang dimaksud Joey dengan "kamu bisa mendapatkan apa pun di B&W asal kamu membayar." Hingga pertanyaan siapa sih Dylan sampai bisa mempengaruhi banyak orang supaya tutup mulut. Hal-hal semacam itu disebutkan dalam cerita namun sayangnya tidak dijelaskan secara gamblang. Karena sungguh aku tidak peduli dengan akhir ksiah cinta monyet ala Gabe dan Yasmine, aku ingin tahu kebenaran dari kasus bunuh diri tersebut. Sayang sekali, Faye Kellerman tidak membereskan apa yang sudah terlanjur disebutkan.

Saran Shiori-ko:
Aku tidak menyesal karena membeli dan membaca buku ini karena ketegangan yang ditawarkan benar-benar membuatku harus berhenti sejenak dan menarik nafas. Tapi seperti apa yang sudah aku katakan. Ending terasa biasa saja. Untung saja aku membeli dengan harga yang sangat miring sehingga aku tidak terlalu kecewa. Tentu, pembaca akan mendapat informasi baru dalam membaca buku ini khususnya dalam topik perlindungan hukum pada anak dan tuntutan yang bisa diajukan kepada remaja di bawah umur. Aku rasa kamu tidak membuang waktu jika kamu memutuskan untuk membaca buku ini :)

No comments:

Post a Comment