Monday, January 19, 2015

Koala Kumal

Jumlah halaman: 247 halaman
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Gagasmedia
Format: paperback
Harga: Rp. 59.500 di Gramedia
Rating Shiori-ko: 3/5
Sinopsis: 
Memasuki tahun kesepuluh sebagai penulis, Raditya Dika melahirkan karya terbarunya Koala Kumal. Masih mengusung genre yang sama—kisah-kisah komedi yang didasarkan pada pengalaman si penulis, kali ini lewat Koala Kumal, Raditya Dika mengajak pembacanya berbicara tentang hubungan yang ‘patah’. Mulai dari renggangnya hubungan pertemanan, perasaan yang berubah kepada orang yang sama, hubungan orangtua dan anak, hingga patah hati terhebat yang mengubah cara pandang terhadap cinta. 

Resensi Shiori-ko:
Oh kekuatan iklan yang begitu hebat sampai aku terbawa euforia lahirnya sang koala. Sengaja tidak ikut sesi pre-order supaya bisa minta tanda tangan langsung dengan penulisnya (kabarnya akan mampir ke Surabaya tanggl 2 Februari nanti!), jadi begitu mendapat kabar dari toko buku tercinta, aku menyempatkan diri untuk membeli. Namanya juga buku super ringan, jadi bisa aku habiskan dalam waktu kurang lebih 2 jam saja (...dan kemudian dijual lagi *eh?)

Gaya Bahasa dan Kosa Kata
Pembaca lama sudah paham gaya penulisan dari Raditya Dika. Termasuk diriku. Aku merasa ada perubahan yang terlihat dalam bentuk penyampaian dan penggunaan kosa kata. Sudah tidak lagi asal-asalan dan menjaga kerapihan tulisan, walau ciri khasnya adalah ceplas-ceplosnya itu. Tapi menurutku, karena sudah berkembang menjadi penulis yang semakin matang, membaca buku ini, secara cepat sekalipun, tidak membuat capek. Tapi sayang, aku menemukan dua halaman yang salah ketik dan tertuakar peletakan katanya (halaman 66 dan halaman 136).

Plot
Karena Koala Kumal adalah buku dengan kumpulan kisah Raditya Dika tentang menjadi "kumal" (temukan makna judulnya dalam buku ini ya), tentu saja plot yang digunakan adalah plot mundur. Penulis bermain dengan adegan kilas balik yang entah itu sedih, lucu, ataupun campuran dari keduanya. Penyampaiannya yang halus, tidak membuatku kebingungan ketika mengikuti jalan ceritanya. 


Yang Menarik
Ada satu bab yang menceritakan bagaimana Raditya Dika merintis serial Malam Minggu Miko. Minimal, penggemar jadi tahu bahwa orang-orang yang berada di balik layar adalah mereka yang sebelumnya mau bekerja tanpa dibayar alias hanya berlandaskan ketulusan untuk membantu. Selain itu, pada akhir bab, Raditya Dika bisa menutup dengan memberi kesimpulan yang berbobot, sehingga aku pun berpikir bahwa penulis bukanlah asal menulis melainkan sudah menjadi sosok yang memang memiliki ilmu dan pengetahuan. Tulisannya sudah tidak seberantakan buku pertama dan buku kedua.

pembatas bukunya lucu sekali!

Saran Shiori-ko:
Terlalu ringan bagiku, tapi secara pribadi aku salut dengan Raditya Dika karena dia membuktikan bahwa dia bukanlah penulis yang terkenal gara-gara tulisan di blognya semata. Raditya Dika mau belajar dan berkembang menjadi pekerja kreatif. Lihat saja karya filmnya ataupun aktif sebagai comic 

Akan tetapi, untuk tulisan di Koala Kumalnya ini, aku merasa tidak terlalu mengena. Hanya beberapa bagian saja yang membuatku jadi ikut mengangguk setuju atau tertawa begitu lepas. Favoritku masih saja jatuh pada Marmut Merah Jambu

No comments:

Post a Comment