Saturday, December 12, 2015

The Alpha Girl's Guide

The Alpha Girl's Guide
Penulis: Henry Manampiring
Jumlah halaman: 254 halaman
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Gagasmedia
Harga: Rp. 65.000
Format: paperback
Rating Shiori-ko: 4/5
Sinopsis:

Alpha Female adalah para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Mereka cerdas, percaya diri, dan independen. Bagaimana remaja dan perempuan muda bisa mengembangkan diri menjadi mereka? The Alpha Girl’s Guide akan membahas tips-tipsnya, seperti:

  • Mana yang lebih penting, nilai atau pengalaman berorganisasi?
  • Apakah teman kamu teman sejati atau teman yang menghambat?
  • Bagaimana mengetahui cowok parasit dan manipulatif? 
  • Bagaimana bersikap saat patah hati?
  • Apakah kamu akan menikah untuk alasan yang tepat?
  • Apa yang penting dilakukan saat memulai bekerja?


Buku ini adalah hasil pengamatan, riset artikel, wawancara langsung, dan diskusi dengan banyak perempuan di media sosial Ask.fm. Ditulis dengan ringan, penuh ilustrasi kocak, tetapi tetap blak-blakan menohok, The Alpha Girl’s Guide akan membuat kamu terinspirasi menjadi cewek smart, independen dan bebas galau!

Buku ini juga berisi wawancara inspiratif dengan dua Alpha Female Indonesia dari dua generasi: Najwa Shihab dan Alanda Kariza.


Resensi Shiori-ko:
Semenjak punya akun di Ask.Fm, aku jadi tahu apa yang sedang dipergunjingkan di dunia maya dan khususnya dalam dunia perbukuan: sebagian besar perempuan dan wanita sedang menunggu buku terbaru Henry Manampiring (atau sapaan akrabnya: Om Piring). Berbekal pengalaman yang sebelumnya, bahwa menunggu buku baru tersedia di toko buku di Surabaya ternyata bisa hingga 1 bulan, aku pun ikut serta dalam kemeriahan pemesanan yang ada bonus tanda tangan dan stikernya.

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Kalau yang sudah pernah membaca dua buku sebelumnya, tulisan dalam buku ini masih disajikan dalam bentuk yang santai. Yah, minimal pembaca sudah familiar dengan seperti apa Om Piring menuliskan atau mengemukakan pendapatnya. Karena ringan itulah menurutku, isi buku ini jadi mudah diterima oleh pembaca, terutama mereka yang masih remaja. Cara penyampaiannya percampuran antara formal dan informal, membuat seakan apa yang dituliskan menjadi menarik dan tidak terkesan membosankan ataupun monoton. Kombinasi antara gaya bahasa yang tidak bertele-tele (dan menggunakan analogi supaya memudahkan pembaca untuk mendapatkan gambarannya), kosa kata yang akrab dalam kamus bahasa para pembaca hingga cara penyampaian yang tidak membosankan bisa jadi alasan mengapa aku bisa menyelesaikannya dalam waktu yang cukup singkat. Tipikal bacaan yang sebenarnya bisa dilahap dengan sekali duduk saja.

Desain dan Tata Letak
Selain karena unsur penulisannya, aku akui, dengan adanya ilustrasi yang menggemaskan dan menghibur bisa menjadi alasan mengapa buku ini tidak membosankan. Ilustrasinya bermacam-macam, ada yang sebagai pemanis halaman, ada juga yang merupakan penjelasan dari apa yang dipaparkan dalam bentuk tulisan. Tidak hanya itu, untuk tata letak sendiri, buku ini sudah cukup nyaman. Ukuran dan jenis huruf yang dipilih nyaman untuk mata. Dan jangan lupa kalau buku ini dicetak hitam putih saja. Yang menarik lagi, kadang di beberapa halaman ada seperti boks yang beraga, isinya: ada kutipan, isu tertentu, tips, hingga ringkasan yang dijelaskan dalam bab itu. Oh iya, setiap bab juga dipisakan dengan ilustrasi lucu seorang remaja perempuan menggunakan kostum bersayap layaknya Superman.

cuplikan wawancara Om Piring dengan Najwa Shihab

Ide Buku
Bisa dibilang buku ini adalah buku dengan genre self-help yang ingin memotivasi kaum wanita namun ditulis dari sudut pandang seorang pria. Pada awal buku, Om Piring sudah menjelaskan kalau buku ini dibuat karena tergelitik membaca pertanyaan yang sering dilontarkan padanya melalui akun jejaring sosial Ask Fm miliknya. Gemas karena di era yang suda serba canggih begini masih banyak yang berpikir kalau wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya akan bekerja di dapur. Berangkat dari pertanyaan itulah, Om Piring kemudian memutuskan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai bagaimana seharusnya remaja Indonesia bersikap untuk masa depannya. 

Kalau dibandingkan dengan buku self-help populer lain milik penulis lokal, rasanya belum ada yang seperti buku ini. Bahkan buku milik Zevanna Letisha dan Alanda Kariza saja bagiku masih menuliskan dari sudut pandang perempuan mengenai bagaimana caranya menjadi wanita yang memiliki ambisi dan bisa menggapai apa yang dicita-citakan. Sedangkan, karena buku ini dituliskan oleh pria, isi yang ada di dalamnya kurang lebih membuat pembaca perempuan tahu bagaimana pria (bukan bocah lelaki lagi ya) memandang kaum wanita yang memiliki ambisi dan ingin menjadi pemimpin. Om Piring memang ingin membuktikan bahwa menjadi perempuan dan wanita yang ambisius lantas tidak membuat pria merasa terintimidasi. Kurang lebih aku melihat kalau Om Piring mendorong adanya persamaan gender, salah satunya adalah dengan mengatakan kalau setiap perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi. 

Yoona aja mau sekolah & lulus walaupun fansnya udah bejibun!
Om Piring juga bermain dengan hasil penelitian dimana artikelnya dituliskan dalam bentuk catatan kaki. Yang bikin aku suka adalah karena apa yang ditulis Om Piring memang tidak sembarang asumsi, meskipun dari beberapa pendapat Om Piring juga mengatakan kalau pengamatan yang beliau lakukan bersifat terbatas karena populasinya hanya dari orang-orang yang di sekitarnya. Om Piring juga mereferensikan buku (dan bagusnya ada daftar pustkanya juga lo!) yang jika pembaca masih penasaran dengan pendapatnya sila telisik lebih lanjut. Dan diantara buku yang dijadikan bahan referensinya, ada Lean In karya Sheryl Sandberg!

Kebanyakan dari tulisan Om Piring membuatku ingin menjabarkannya lebih lanjut menggunakan sudut pandangku saking aku merasa kalau tulisan itu benar adanya (mungkin lain waktu aku akan mencoba memaparkannya di blogku yang lain ya!) atau dengan kata lain cukup thought provoking. Menarik. Apalagi mengingat bahwa meskipun negara Indonesia sudah memberikan kebebasan pada kaum wanita untuk berkembang, nyatanya masih banyak pola pikir yang merasa kalau wanita seharusnya kembali pada zaman sebelum RA Kartini. Buku ini memberi pencerahan kepada mereka yang sempat tersesat.

Saran Shiori-ko:
BACA! Ini buku bagus untuk mereka yang masih tidak peduli dengan masa depan mereka sendiri, tapi malah asyik galau soal pasangan hidup ketimbang membuat dirinya menjadi lebih worth it. Buku ini jauh lebih muda dicerna oleh anak muda Indonesia ketimbang aku tiba-tiba langsung merekomendasikan Lean In-nya Sheryl Sandberg. 

5 comments:

  1. Makasih reviewnya Hestia. Sangat detail! :)

    ReplyDelete
  2. Kalimat penutupnya luar biasa....

    ReplyDelete
  3. Kalo boleh tau, di surabaya dijual di toko buku mana ya? Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung sudah ada stoknya kok :)

      Delete
  4. Halo ka. Thanks untuk reviewnya ya, jadi ingin baca juga!

    ReplyDelete