Wednesday, March 23, 2016

Fenomenologi Wanita Ber-High Heels

Fenomenologi Wanita Ber-High Heels
Penulis: Ika Noorharini
Jumlah halaman: 112 halaman
Tahun terbit: 2015
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Format: paperback
Rating Shiori-ko: 4/5
Sinopsis:


Bagaikan sebuah kekuatan terpendam, high heels bukanlah sekedar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapa pun di sekitarnya. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral.

Resensi Shiori-ko:
Kaget juga dan baru tahu kalau ada buku yang membahas mengenai wanita dengan identitasnya yakni sepatu high heels. Terutama ketika membaca judulnya. Kata "fenomenologi" sudah kerap aku dengar ketika masih duduk di bangku kuliah. Jujur saja, mengupas tuntas suatu fenomena sosial menggunakan teori fenomenologi bukanlah suatu hal yang aku tahu banyak. Maka dari itu, rasanya tidak ada salahnya juga untuk membaca buku ini.

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Kalau membaca dari bagian prakata, Ika ingin menyampaiakna suatu pesan yang sebelumnya tertuang dalam bentuk ilmiah. Melalui buku ini, Ika berharap agar pesan tersebut bisa diketahui khalayak luas tanpa harus mengerutkan kening, kebingungan mencari arti dalam istilah-istilah akademis yang tidak semua orang paham. Namun sayangnya, meskipun Ika punya harapan seperti itu, nyatanya kosa kata yang digunakan masih saja tergolong berat. Istilah-istilah akademis yang tersegmentasi juga masih sering ditemukan sepanjang buku. Alangkah baiknya jika Ika juga memberikan catatan kaki yang bisa membuat pembaca awam memahami arti dari istilah tersebut.

Bagaiana dengan gaya bahasa dan penyampaian? Berkata kalau buku ini adalah penyederhanaan dari tesis miliknya, aku rasa penyampaiannya masih condong ke arah yang formal. Meskipun kosa kata dan penyampaiannya tampak berat, sebenarnya gaya bahasa yang digunakan oleh Ika cenderung santai. Hal tersebut dapat dilihat melalui penggunaan emoticon pada beberapa paragraf. Ika tetap ingin mengesankan kalau buku karyanya ini tidak seserius judul depannya.

Desain dan Tata Letak
Buku ini kalau dilihat secara fisik terasa mahal dan elegan. Lihat saja desain sampulnya yang menggunakna dua orang model berkaki jenjang dan berlatar belakang warna gelap. Belum lagi dengan jenis kertas yang digunakan serta setiap halaman yang full color

Ketika membuka halaman-halaman awal, akan ada desain lucu berwarna-warni yang menyambut pembaca. Tetapi hal tersebut tidak terlalu banyak. Yang aku sayangkan adalah desain pembuka bab yang hanya menggunakan tulisan dengan warna font gelap serta latar belakang hitam. Mungkin maksudnya agar terlihat elegan, tetapi yang aku rasa malah tidak seimbang dengan kesan "ringan" yang ditekankan oleh Ika.

Begitu bagian pembahasan selesai, barulah ada desain lucu lagi berwarna-warni yang membatasi antara bagian pembahasan dengan bagian daftar pustaka. 

Untuk ilustrasi pelengkap, tidak banyak memang, tetapi cukup membantu pembaca untuk mebayangkan seperti apa jenis high heels zaman dahulu. Yang aku heran adalah, mengapa ketika menjelaskan mengenai jenis high heels zaman sekarang, cuma diberi gambar saja tanpa adanya keterangan namanya? Sebab bagiku, tidak semua pembaca sudah tahu seperti apa itu bentuk kitten heels, stiletto, dan ragam yang lainnya. Aku saja sebagai wanita belum terlalu fasih dalam dunia persepatuan.

Isi Buku
Ika menjelaskan soal wanita dengan identitasnya berupa sepatu high heels secara runut. Dimulai dari latar belakang mengapa ia memutuskan untuk melakukan penelitian terhadap hal tersebut, menceritakan tentang sejarah sepatu high heels yang mulanya dikenakan oleh para pria bangsawan hingga bagaimana bisa jadi identitas kekuatan seorang wanita. Tidak berhenti disitu saja, tentu Ika menjabarkan juga bagaimana pendapat 15 informannya dengan latar belakang beragam mengenai high heels. Dari jawaban dan penjelasan tersebut, maka diketahuilah kalau high heels tidak lagi untuk sekedar barang fesyen. Bagi wanita, high heels memberikan makna untuk memberikan kekuatan. Atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan empowered women. Malah ada jawaban dimana high heels-lah yang akan berbicaranya mengenai sosok seorang wanita, bukan saja dari pakaian yang dikenakan.

Walau untuk bagian awal mula dari high heels sebenarnya sudah tidak terlalu asing bagiku, tetapi membaca jawaban-jawaban para informan ternyata memberikan hal baru. Ditambah pula dengan fenomena yang terjadi di kalangan wanita yang membanggakan sepatunya tersebut. Meskipun begitu, aku masih merasa kalau buku ini kurang mendalam untuk memberikan gambaran mengenai fenomena wanita dan high heels-nya. Dan lagi-lagi, masalah formal atau tidak formalnya buku ini yang bagiku belum terlalu jelas. Meskpun inginnya menjadi bacaan ringan, ternyata buku ini tetap condong menjadi buku yag serius.

Aku juga sempat menemukan beberapa kesalahan ketik. Tidak terlalu mengganggu tetapi akan lebih baik jika hal tersebut tidak sampai kejadian. Buku ini sempat meyinggung istilah "feminisme" tetapi tidak terlalu banyak. Jadi jangan takut kalau buku ini akan terasa berat (hanya agak berat saja).

Kalau ingin menjadi buku yang setidaknya membuat orang lain jadi tahu tanpa harus mengerutkan kening, aku rasa desain dan tata letaknya bisa dibuat lebih dinamis. Seperti buku-buku milik Yoris, Diana Rikasari, Handoko Hendroyono, atau Wahyu Aditya. Desain yang lebih cerah dan ilustrasi-ilustrasi menarik seperti yang ada pada pembuka buku bisa dijadikan acuan untuk membuat buku ini tidak tampak terlalu elegan dan hanya untuk kalangan akademisi saja. Akan bagus nantinya jika buku ini juga bisa dinikmati oleh mereka yang baru saja lulus kuliah dan ingin bekerja kantoran. Buku ini bisa memberikan cara pandang baru mengenai apa arti high heels bagi wanita.

Saran Shiori-ko:
Secara keseluruhan buku ini cukup menarik. Hanya saja penyamapaiannya yang masih condong untuk menjadi tulisan ilmiah. Sebuah bacaan yang bisa membuka cara pandang baru akan high heels dan kaitannya dengan wanita. 

No comments:

Post a Comment