Tuesday, August 26, 2014

Mata yang Enak Dipandang

Mata yang Enak Dipandang (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Ahmad Tohari
Jumlah halaman: 216 halaman
Format: paperback
Harga: Rp. 48.000
Goodreads
Rating Shiori-ko: 4,4/5
Sinopsis: dikutip dari Goodreads

Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997.

Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.

Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.


Resensi Shiori-ko
Singkatnya, aku suka sekali dengan tulisan A. Tohari. Aku memutuskan untuk membaca kumpulan cerpen ini karena merasa ada yang ngganjel karena belum menyelesaikan Ronggeng Dukuh Paruk. Meski hanya membaca buku pertama kisah Srintil, akan tetapi aku sudah terpukau dengan gaya bahasa yang digunakan oleh A. Tohari. Rindu akan atmosfer karyanya, aku pun memutuskan untuk membaca Mata yang Enak Dipandang.

Gaya Bahasa dan Kosa Kata
Ah, aku perlu berkata apalagi. Aku sudha jatuh cinta dengan gaya bahasa dan kekayaan kosa kata yang digunakan oleh A. Tohari sepanjang cerita. Kosa katanya tidak tinggi, namun beragam dan menciptakan suasana sendiri. Bahkan, aku tidak mau menyangkal, aku memang baru bertemu beberapa kata baru (yang tentu saja akan menambah perbendaharaan kosa kataku). Kesederhanaan dalam merangkai kata menjadi kalimat, buatku malah menjadi suatu daya tarik. 


Tidak hanya itu saja, kiasan yang digunakan dalam seluruh cerita pendek sebenarnya menyimbolkan sesuatu yang sederhana pula, yang apabila dikaitkan dengan permasalahan sosial masa kini, mungkin sangat cocok. Bukan, kalimatnya tidak menyindir. Namun, mencoba menyentuh ruang hati pembaca dengan kata-kata.

Latar
Ini pun juga pemicu mengapa aku ingin sekali membaca semua karya A. Tohari. Bagiku, kekuatannya terletak pada cara menggambarkan latar, terutma latar tempat. Gayanya begitu khas sehingga menurutku, bisa memunculkan wujud latar itu dalam imaji pembaca. Latar waktu pun demikian. Pembaca tidak dipaksa membayangkan, melainkan menyuguhkan tempat dan waktu yang menjadi latar cerita kepada pembaca seakan pembaca tengah menonton film. Aku malah menikmati sekali apa yang dituliskan oleh A. Tohari.

Penokohan
Bagi yang sudah pernah membaca karya A. Tohari, aku rasa tidak ada yang heran apabila seluruh karakternya selalu merupakan orang dari golongan bawah, meski memang ada yang dari golongan menengah ataupun atas. Aku tidak heran. Malah suka. Aku tidak tahu apakah A. Tohari sebelum menulis senang sekali mengamati manusia sehingga tokoh yang diceritakannya seakan memang benar adanya begitu, seakan tokoh tersebut memang bernafas di dunia nyata.

Yang Menarik
Apalagi kalau bukan semua hal yang diuliknya adalah dari kalangan bawah, mereka yang tinggal jau dari kota dengan permasalahan ekonomi-sosial-budaya. Memang, la diperhatikan, semua cerpen tersebut ditulis pada era 90an Tetapi, apa yang diceritakan sesungguhnya masih bisa ditemui pada zaman sekarang. Dengan kata lain, apa yang diceritakan berdasar pada tragedi dan peristawa nyata namun dari sudut pandang orang kecil.
 

Aku pun menggunakan tulisan A. Tohari untuk belajar memahami budaya orang di pedesaan. Membuktikan banya sekali hal, yang kita kira meski dalam satu wilayah, ternyata punya budaya yang berbeda. Mau apa kita, orang kota, menghadapi budaya orang desa yang sudah lebih lama terbentuk?

Saran Shiori-ko

Buku ini aku sarankan dibaca oleh siapapun, untuk mengingat bahwa setinggi-tingginya orang sekolah, apa bisa langsung menggerus budaya di bawah yang usianya lebih tua dari kita? Sebagai refleksi bahwa di Indonesia ada budaya yang bagi orang kota itu tidak baik, namun ternyata tetap dilestarikan. 

No comments:

Post a Comment