Saturday, February 7, 2015

The Shadowhunter's Codex

Jumlah halaman: 274 halaman
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Simon and Schuster
Format: hardcover
Harga: Rp. 231.000 di Periplus
Rating Shiori-ko: 3,5/5
Sinopsis: 
The Clave is pleased to announce the newest edition of the Nephilim’s oldest and most famous training manual: the Shadowhunter’s Codex. Since the thirteenth century, the Codex has been the young Shadowhunter’s best friend. When you’re being swarmed by demons it can be easy to forget the finer points of obscure demon languages or the fastest way to stop an attack of Raum demons. With the Codex by your side, you never have to worry. 


Resensi Shiori-ko:
To be honest, aku sendiri belum menyelesaikan keseluruhan serial The Mortal Instruments. Terhenti di buku kedua, namun karena tuntutan penelitian (aku menggunakan komunitas The Mortal Instruments Indonesia sebagai obyek) akhirnya aku melompat membaca buku ini. Apalagi kalau bukan agar aku bisa memahami apa yang diperbincangkan dalam komunitas. Padahal sebenarnya, aku adalah Half-Blood, aku menghabiskan liburanku di Camp Half-Blood. Tenang saja, aku tidak bermaksud menginvansi kaum Shadowhunter. Aku hanya ingin mengetahui dunia mereka dan siapa tahu bisa diajak bekerja sama untuk menjaga perdamaian dunia ;;)

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Buku ini bisa dikatakan sebagai text-book untuk mereka yang baru saja menjadi Shadowhunter. Sama halnya seperti buku teks dalam dunia manusia, buku ini disampaikan dengan gaya yang formal, kaku, tidak ada unsur bercandanya sama sekali. Namun karena itulah, tiga tokoh utama dalam instalment The Mortal Instruments, Clary-Simon-Jace mencorat-coret buku ini dengan komentar-komentar lucu bin konyol. Seakan-akan kita tengah membaca sebuah buku yang sebelumnya digunakan oleh tiga tokoh tersebut untuk belajar.

Kosa kata yang dipakai untuk menyampaikan bagiku cukup sulit. Ada beberapa kata yang tidak dengah mudah dimengerti (apa karena setting buku ini adalah zaman yang lama sekali ya?). Tapi bukan berarti penggunaan bahasa Inggrisnya adalah bahasa Inggris kuno seperti halnya tulisan literatur klasik. Gaya bahasanya masih dapat dipahami. 

salah satu ilustasi dalam buku // via www.tmisource.com

Seperti yang sudah aku katakan pada paragraf sebelumnya kalau buku ini berformat buku teks, aku merasa cara penyampaiannya jadi membosankan. Jujur saja, aku merasa lambat dalam menyelesaikan buku ini. Aku merasakan seperti tengah belajar untuk ujian. Istilah-istilah yang bagiku belum familiar menjadi tantangan tersendiri untuk mencoba mengingat (mungkin karena aku belum menyelesaikan keseluruhan serialnya). Dengan adanya coretan komentar dari tiga tokoh itu, setidaknya tidak begitu menjadi monoton dan membuat ngantuk. 

Isi Buku
Buku ini kalau dikatakan sebagai guide book juga tidak terlalu sesuai. Isinya diawali dengan pendahuluan apa itu Shadowhunter dan kemudian dilanjutkan dengan apapun yang berkaitan dengan dunia Shadowhunter dari senjata yang digunakan, pertarungan, jenis-jenis setan/iblis yang dihadapi, hingga ras Downworlders yang hidup berdampingan dengan Shadowhunter. Bahkan ada pula penjelasan tentang manusia/Mundane dalam kacamata Shadowhunter.

Buku ini seakan menjadi sebuah kitab lengkap yang membahas mengenai apapun tentang Shadowhunter. Tidak hanya sebatas sejarah bagaimana ras ini akhirnya bisa bertahan. Penjelasan yang ada di dalam buku ini sesungguhnya sangat menarik. Untuk aku yang baru membaca 2 judul dari serial The Mortal Instruments, aku merasa kalau dunia ciptaan para penulis ini tampak begitu nyata. Sejalan dengan slogan yang tertulis di bagian judul "All The Stories Are True". Dunia imajinatif yang menyenangkan tersebut yang menjadi daya tarik.

Dalam buku ini, penulis tidak hanya mengembangkan imajinasi pembacanya, melainkan juga memberikan beberapa informasi baru. Misalnya saja nama-nama makhluk yang ternyata diambil dari beragam mitologi. Begitu pula dengan artinya dalam mitologi tersebut. Buku ini juga ditambahkan dengan ilustrasi menarik yang membuat pembaca tidak jenuh. Ilustrasi tersebut seolah-oleh digambar oleh Clary yang tengah usil dan bosan membaca. 

salah satu coretan Clary-Simon-Jace // via www.themortalinstitute.blogspot.com


Di bagian akhir pun juga ada doodling menarik yang sebenarnya halaman-halaman kosong tersebut ditujukan untuk berlatih menggambar rune. Keunikan inilah yang juga menjadi salah satu nilai jual. Seakan kita ikut masuk ke dalam kisah Clary dan belajar menjadi Shadowhunter sebagaimana mestinya. 

Saran Shiori-ko:
Secara isi memang menarik, tapi secara penyampaian aku seakan "dipaksa" untuk membaca ini dan menghafal semua materinya. Aku mengagumi bagaimana Cassandra Clare mampu mengkonstruksi sebuah dunia imajinatif menjadi seakan begitu nyata bagi pembaca dan penggemarnya. Yang aku sayangkan hanyalah tidak begitu kelihatannya bumbu humor, meski itu disampaikan melalui coretan ketiga tokoh utamanya. Jika aku boleh membandingkan, aku lebih suka gaya penulisan Rick Riordan yang ringan dan humoris. Untuk kamu yang menggemari karya Cassandra Clare, aku rasa wajib untuk punya dan membaca buku ini. Secara fisik buku ini memang pantas untuk dikoleksi karena desainnya yang indah. 

No comments:

Post a Comment