Sunday, June 21, 2015

Indiepreneur

Jumlah halaman: 272 halaman
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Bentang Pustaka
Format: paperback
Harga: Rp 58.650 di Togamas
Rating Shiori-ko: 4.5/5
Sinopsis: 
Belakangan ini, saya mulai menyadari bahwa kita adalah bangsa yang budaya berkaryanya diubah menjadi budaya bekerja.
Kita kekurangan orang-orang yang punya semangat entrepreneurial. Kita kehilangan orang-orang yang berani memulai dari nol daripada melakukan pengulangan; yang bisa mencari jawaban daripada menghafal jawaban; yang berani ambil risiko, bukan yang sekadar cari aman; yang memiliki visi sendiri, bukan mengikuti visi orang lain atau perusahaan tempat dia bekerja. Kita kekurangan orang-orang yang berkarya.
Saya menulis buku ini untuk membantu menepis keraguan para pekarya. Mereka tak perlu lagi khawatir bahwa karyanya akan dibajak atau bingung cara apa yang paling tepat untuk memasarkan karya terbarunya. Melalui lima tahun penuh eksperimen sebagai pekarya sekaligus pebisnis, saya menemukan formula yang luar biasa efektif: Free Lunch Method dan The Great Eight (G8-8). Formula yang akan membuat kita mampu memenangkan persaingan dan merebut hati para penikmat karya.
Pandji Pragiwaksono,
Pekarya
Resensi Shiori-ko:
Entah sudah berapa lama follow Pandji via Twitter, namun sepertinya semenjak buku elektronik NASIONAL.IS.ME ramai diperbincangkan. Sejak saat itulah aku mengikuti pemikiran yang Pandji sering utarakan melalui Twitter, termasuk salah satunya ketika ia berujar untuk menerbitkan Indiepreneur ke dalam bentuk tercetak (selama ini dijual dalam bentuk digital download). Senang dong! Meski harus menunggu lebih lama ketimbang mereka yang ada di Jabodetabek, akhirnya aku berhasil membaca buku ini hanya dalam semalaman saja. 

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Cara Penyampaian
Pandji bersikap fair karena mengatakan di depan bahwa buku Indiepreneur menggunakan cara penyampaian story telling. Kalau pembaca sudah pernah membaca beberapa buku non-fiksi tulisan luar negeri (misalnya Art of Thinking Clearly) pasti tidak merasa kesusahan (& malah menyenangkan!) untuk mengikuti bagaimana cara Pandji bercerita. Masih sama dengan buku-buku Pandji yang sebelumnya, Pandji menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas. Pandji tidak malu-malu untuk mengatakan hal yang baginya negatif. Begitu pula dengan penggunaan kosa katanya. Aku rasa tidak ada yang sulit. Pandji menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris semata-mata untuk membuat pembaca lebih mendalami maknanya (tahu kan, ada beberapa pepatah yang lebih mengena jika dituliskan dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia?). Karena itulah, mungkin pembaca yang termotivasi membaca karena penasaran, "ini buku tentang apa sih?" akan lebih cepat membacanya. Bukan karena isinya yang tidak bagus, tetapi karena cara penyampaian + gaya bahasa + kosa katanya tidak menyulitkan pembaca. Pembaca tidak perlu berpikir berkali-kali akan pesan yang ada di dalam buku. 

Desain dan Tata Letak
Ah, ini juga salah satu hal yang aku suka. Untuk versi cetaknya, Indiepreneur menggunakan tiga warna: biru, hitam, dan putih. Judul bab, kutipan, dan poin pentingnya diberi warna bitu. Di sela-sela halaman ada kutipan dari Pandji yang didesain secara menarik. Perpisahan antarbab juga didesain dengan bagus. Indiepreneur tidak hanya berisi tulisan saja, Pandji juga menyisipkan foto-foto untuk mendukung apa yang dijelaskan olehnya. Warna yang digunakan dalam buku ini tidak membuat sakit mata. Wajar sih, kalau ada pembaca yang bisa menghabiskannya dalam waktu semalam suntuk :p

sumber: twitter


Isi Buku
Pandji melalui verso kaver Indiepreneur melabeli dirinya sebagai seorang "pekarya" dan buku ini lah yang sedikit banyak menjabarkan mengapa dirinya lebih senang disebut dengan "pekarya". Pandji juga mengatakan bahwa para pekarya lain di Indonesia sangat mungkin hidup dari karyanya sendiri dengan tetap idealis akan prinsip yang dipegang, tanpa harus menghilangkan idealisme itu sama sekali demi mengiktui permintaan pihak-pihak lain. Pada dasarnya, buku Indiepreneur berkisah mengenai pengalaman Pandji dalam "memasarkan" karyanya. Segala macam eksperimen sudah ia coba dan ia tuangkan dalam bukunya ini.

Misalnya saja ketika ramai isu-isu pembajakan, Pandji malah menggratiskan karyanya. Tidak masuk akal? Di dalam Indiepreneur akan dijelaskan mengapa Pandji mendorong penggemarnya untuk "membajak" lagunya, bahkan di-support langsung oleh pekaryanya. Itu masih contoh kecil. Apa yang kita lihat selama ini sebagai suatu fenomena yang salah, yang bisa mematikan industri tertentu (pembajakan musik mengancam industri rekaman, misalnya), Pandji mengajak pembaca untuk melihat dari sisi yang berbeda dan mencoba untuk mengondisikan pembaca agar mencari solusi dari sudut yang lain itu. Kalau bahasa gaulnya, Pandji mengajak pembacanya ini untuk berpikir anti-mainstream atas sebuah ancaman, karena malah solusi yang anti-mainstream itu yang bisa kita jadikan counter untuk ancaman kita. 

Walau memang aku pribadi belum menjadi seorang pekarya, tetapi ilmu yang dibagi Pandji di dalam buku ini menarik, bahkan aku rasa bisa dikorelasikan dengn mereka-mereka yang ingin berkarya. Pandji membahas startegi dan pengalamannya mungkin memang terasa spesifik untuk karya musik dan stand up comedy-nya, tetapi kalau pembaca bisa menarik konsep utamanya dari apa yang diutarakan Pandji, aku rasa pembaca bisa menemukan taktik yang bisa diaplikasikan. Sama dengan apa yang dilakukan oleh Pandji.

Pandji membagi buku ini menjadi langkah-langkah yang dimulai dari mengondisikan pembaca memiliki pola pikir yang sejalan dengannya. Barulah kemudian Pandji mengupas tekniknya yang ia sebuh dengan The Great Eight (GR8-8). Secara lengkap Pandji membahas mengenai produk, promosi, komunitas, pengalaman, harga, distribusi, kolaborasi, hingga mengenai tim yang bisa mendukung kinerja optimal si pekarya.

kurang GR8 Community - edit sendiri // sumber: pandji

Jujur saja, cara Pandji bercerita dalam buku ini, disertai dengan contoh-contoh kasus yang (mungkin) sudah sangat familier membuat pembaca akan menjadi peka. Tidak mungkin Taylor Swift tiba-tiba melejit dengan banyak penghargaan tanpa adanya strategi yang sesuai dengan pasarnya dan berbeda dengan yang sudah ada. Atau misalnya saja Jay-Z, yang melabeli diri sebagai bisnis. Pandji mencoba mengangkat kasus dan pengalaman mereka yang selama ini kita lihat kesuksesannya saja, ternyata ada proses berpikir kreatif di dalamnya. 

Pandji menulis dalma bukunya bahwa riset itu penting. Menjadi peka dengan pasar yang ingin dituju plus bisa membaca data dan kecenderungannya, akan sangat membantu pekarya untuk mendapatkan apresiasi yang sesuai. Tidak bisa sembarang ikut-ikutan startegi pemasaran, tanpa melihat bagaimana pasar bereaksi akan suatu hal. Apalagi sudah diketahui banyak orang, netizen adalah masyarakat yang besar, jangan remehkan kekuatan mereka (artis Korea aja bisa bunuh diri gara-gara diserang netizen, hayo).

Yang Pandji tekankan dalam buku Indiepreneur ialah, bahwa di tengah semua hal yang bisa diduplikasi dengan mudah, tetap saja ada hal yang tidak bisa disalin berulang. Yakni suatu hal yang bernama "pengalaman". Ini bisa panjang ceritanya kalau aku jelaskan dengan pendekatan cultural studies (eh, itu topik skripsiku sih ya hehehe). Aku setuju. Penggemar memang bisa mendengarkan suara Pandji via CD atau DVD atau bahkan dari free download-nya itu. Tapi yang selalu dinanti adalah bagaimana caranya mendapatkan pengalaman untuk mendengarkan Pandji nge-rap secara langsung sampai ikut berdendang bersama.

Di akhir buku, Pandji menuliskan bahwa buku Indiepreneur utamanya dipersembahkan untuk para pekarya, bahwa mereka bisa mendapatkan kehidupan dari karyanya itu, Sebuah tulisan yang indah dan menggugah tentang tidak ada salahnya menjadi idealis, apalagi dengan karya sendiri.

Saran Shiori-ko:
Meskipun buku ini lebih banyak mengungkapkan teknik Pandji dalam mempublikasikan karyanya, tidak ada salahnya menjadi bacaan utnuk menambah pengetahuan. Untuk mengetahui bagaimana pasar sangat cepat berubah. Untuk aku pribadi, dari sisi calon pustakawan masa depan (amin!) dan sebagai Community Manager, ada banyak hal yang bisa aku aplikasikan (nanti ya, tulisannya akan aku publikasikan di blog pribadiku!). Aku pribadi, merasa tidak rugim dan bahkan harga buku yang lebih dari Rp 50.000 ini sesungguhnya worth to buy and read. Tidak memalukan juga jika menjadikan buku ini sebagai kado kepada orang tersayang. Aku tidak bisa berkata lain. Bacalah!

No comments:

Post a Comment