Thursday, January 21, 2016

The 5th Wave: Movie Adaptation Review

sumber


SPOILER ALERT to anyone who has not read or watched the title yet

Salah satu film yang aku tunggu-tunggu karena setelah selesai membaca bukunya, aku jadi jatuh cinta dengan cerita itu. Jatuh cinta dengan bagaiamana Rick Yancey mendeskripsikan kisah dengan diksinya yang enak untuk dibaca. Belum lagi dengan jajaran pemainnya yang juga cukup menjanjikan. Rasanya, tidak salah jika menjadikan The 5th Wave sebagai salah satu film adaptasi dari novel yang patut untuk ditonton.

Sebelumnya, aku sudah pernah menulis tentang bagaiaman tanggapanku terhadap cuplikan resmi dari film The 5th Wave beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Kamu bisa membaca tulisan itu disini.

Aku sudah menuliskan bagaimana tanggapanku terhadap bukunya yang akhirnya membuat aku hangover. Sila baca disini

SPOILER ALERT to anyone who has not read or watched the title yet

Plot Penceritaan

hold your expectation, dude! // sumber
Film dimulai dengan keadaan bumi yang sudah terkena 4 gelombang. Cassie, sang tokoh utama sekaligus yang menjadi naratornya kemudian mengajak para penonton untuk mundur, bagaimana bisa bumi menjadi begitu porak-porakanda. Cassie lalu berada pada hari terakhir kehidupan normal, sebelum kaum Yang Lain tiba di bumi dan memulai Gelombang Pertama. Dalam bagian flash back ini dijelaskan satu persatu bagaimana semuanya bisa bermula dan menjadikan Cassie sebagai sosok Cassie yang berbeda dari sebelumnya. Berbeda dengan yang tertulis di buku dimana pembaca diajak mencari tahu bersama-sama dengan Cassie secara perlahan. Dalamm film, flash back sudah dimulai sejak awal sedangkan di buku, Cassie bisa tiba-tiba menjelaskan tentang satu kejadian di masa lalu ketika dia teringat akan suatu hal.

Seperti yang pernah aku tulis mengenai analisisku terhadap film The 5th Wave melalui video promosinya, Sony Pictures selaku studio ternyata mengubah ritme diksi keempat gelombang sebelumnya. Padahal, itu salah satu kekuatan dari The 5th Wave: kekuatan diksi Rick Yancey yang cerdas.

Begitu pula di dalam film. Meskipun Sony Pictures telah mengubahnya menggunakan kosa kata yang rasanya akan lebih mudah dipahami oleh orang awam, nyatanya kata-kata tersebut tidak banyak digunakan di dalam film. Cassie hanya menjelaskan dengan kata-kata dan dialog yang sederhana runtutan masalah yang ditimbulkan oleh Yang Lain tersebut.

Penokohan

cie ditembak cewek // sumber
Rasanya, selain karena penggunaan diksi yang mengagumkan dari seorang Rick Yancey, tiga tokoh utama yang ada dalam buku dan film rasanya tidak boleh luput dari pengamatan. Bagi yang sudah membaca bukunya, pasti tahu siapa itu Ben Parrish dan bagaimana Cassie dan Ben bisa bertemu. Begitu pula dengan cara bagaimana Cassie bisa bertemu dengan Evan Walker. Sayangnya, karena film ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, rasa gregetan akan satu sama lain menjadi kurang.

Misalnya saja dalam buku dimana Cassie pun juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Ben hingga akhirnya buku mengubah sudut pandang penceritaan dari sisi Ben. Begitu pun ketika Cassie bertemu Evan. Melalui bab-bab yang dinaratori oleh masing-masing tokoh, rasa penasaran pembaca semakin dibuat memuncak. Namun, tidak diadaptasi oleh pihhak studio. Bisa saja, hal tersebut karena akan membuat sulit penulis skenario ataupun para pekerja dalam memvisualisasikan apa yang ada di buku 100%.

Padahal, aku mengakui kalau aku suka dengan karakter Evan. Bukan karena pemainnya yang memang tampan, namun karena sifat dan sikapnya terhadap apa yang dia yakini, termasuk di dalamnya Cassie. Begitu diadaptasi ke dalam film, sosok Evan menjadi sekedar pria berwajah tampan dengan postur tubuh yang gagap dan tegah. Mengingatkanku pada sosok Jacob Black dari Twilight.

Bagaimana dengan Ben? Bolehlah Nick Robinson yang sudah tenar karena film-film terdahulu menjadi pendongkrak supaya The 5th Wave bisa laris di pasaran. Masalahnya, postur tubuhnya menjadi sangat berbeda dengan pemeran Evan Walker. Belum lagi posisi Ben yang adalah seorang tentara, telah dilatih entah berapa lama oleh para "Angkatan Darat". Bisa saja, pihak yang mengaudisi benar-benar memilih dua aktor yang perbedaan bodinya tidak terlampau jauh. Sehingga, penonton tidak terlalu mudah menebak siapa kah yang akan dipilih oleh Cassie (jangan lupakan drama cinta segitiga dalam setiap adaptasi novel young adult).

Selain ketiga tokoh utama, masih ada lagi tokoh pamungkas seperti Ringer yang sayangnya di luar ekspektasiku. Ringer boleh saja memiliki dandanan badass kalau di film, namun rasanya dia masih kurang memiliki karakter badass yang sebenarnya. Minimal seperti Emily Blunt dalam film adaptasi dari light novel All You Need is Kill. Kalau penonton sudah membaca hingga buku keduanya, The Infinite Sea, rasanya akan menyayangkan pemeran Ringer yang kurang total dan kurang greget padahal memiliki peran yang penting hingga buku kedua. Syukurlah, pemeran Sam tidak terlalu buruk. Dia terlihat lucu sekali dan aku rasa dia pantas bermain sebagai bocah usia 6 tahun.

Penilaian Akhir

mbak! mbak! jangan keluar dulu! filmnya belom kelar! // sumber


Pada saat mengetahui bahwa sejak awal penceritaannya berbeda dengan yang ada di buku, aku masih bisa memakluminya. Tentu saja, ada perbedaan pangsa pasar antara film dengan buku sehingga perbedaan pun terjadi untuk menyesuaikan hal tersebut. Sayangnya, semakin ke belakang, film terasa semakin mengada-ada. Perbedaan postur tubuh antara Evan dengan Ben seakan mengingatkanku pada Jacob Black dengan Edward Cullen dari Twilight. Meskipun Ben belum mengekspresikan secara langsung perasaannya kepada Cassie (malah belum terlihat jelas jika ada ketertarikan), tetapi sudahh bisa dipastikan kisah percintaan mereka akan menjadi kisah cinta segitiga.

Ada adegan yang aku raasa tidak penting untuk berada dalam film (yah, adegan *sensor*). Bahkan yang tidak logis seperti memakan banyak waktu untuk mencium Cassie padahal bom waktu terus mengancam bagiku juga tidak begitu penting. Kekacauan disana-sini yang diakibatkan oleh Yang Lain tidak menjadi hal yang dominan, malah menjadi sekedar latar untuk memperlihatkan hubungan Cassie dengan Ben, Sam, dan Evan.

Sebenarnya, ide tentang Yang Lain sudah cukup bagus. Apalagi jika sudah membaca bukunya. Yang ada di film malah berbeda. Disamping hubungan antartokoh, keberadaan Yang Lain bagiku malahh mengingatkanku pada anime/manga Parasyte ~The Maxim~ yang suka aku tonton dahulu. Visualisasi dan bagaimana mereka ada di bumi kurang lebih memiliki konsep yang hampir mirip dengan anime/manga tersebut. Sayang sekali, sentuhan khas ala Rick Yancey malah tidak terlihhat dalam film. Termasuk, tidak adanya kutipan memorable dari buku yang digunakan baik untuk narasi maupun dialog.

Apakah kemudian dengan Chloe Moretz menjadi Cassie bisa sama terkenal dan akan menjadi ikon young adult movie selanjutnya setelah Jennifer Lawrence? (Maaf, aku pribadi kurang suka dengan Shailene Woodley, tidak hanya karena ia berperan sebagai Tris dalam trilogi Divergent, melainkan karena dia terlalu sering bermain film). Andai saja film besutan Sony Pictures ini dieksekusi lebih baik dan tidak sekedar menjadi film untuk menghibur remaja, Chloe akan menjadi sosok yang diingat setelah Emma Watson dan Jennifer Lawrence.

Ohiya, aku juga baru tahu kalau Sia mengisi soundtrack film ini dengan single dari album terbarunya (kelak), Alive. Tonton juga music video plus behind the scene-nya karena modelnya sangat menggemaskan!

Secara keseluruhan, aku tidak begitu merekomendasikan film ini untuk dijadikan investasi hiburan. Malah film ini bisa menjadi bumerang untuk bukunya yang menakjubkan itu. Lebih baik membaca bukunya saja. Kalau bisa baca yang edisi bahasa Inggris untuk mengetahui kadar keindahan diksi Rick Yancey.

2 comments:

  1. This movie was too cheesy for my taste :(

    Entah gmn bukunya, jd pgn coba baca aja..

    ReplyDelete