Friday, April 29, 2016

Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Penulis: Ransom Riggs
Jumlah halaman: 382 halaman
Tahun terbit: 2013 (pertama kali terbit 2011)
Penerbit: Quirk Books
Harga: Rp 165.000 di Kinokuniya
Format: paperback
Rating Shiori-ko: 4/5
Sinopsis:

A mysterious island. An abandoned orphanage. A strange collection of curious photographs.

A horrific family tragedy sets sixteen-year-old Jacob journeying to a remote island off the coast of Wales, where he discovers the crumbling ruins of Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children. As Jacob explores its abandoned bedrooms and hallways, it becomes clear that the children were more than just peculiar. They may have been dangerous. They may have been quarantined on a deserted island for good reason. And somehow—impossible though it seems—they may still be alive.

A spine-tingling fantasy illustrated with haunting vintage photography.


Resensi Shiori-ko:
Semua pembaca buku pasti ingin membaca bukunya terlebih dahulu sebelum menonton versi layar lebarnya. Begitu pula denganku. Aku malah memutuskan untuk tidak menonton trailler-nya untuk mencegah terjadinya pembatasan imajinasi ketika aku memutuskan untuk membaca buku ini. Sempat ragu juga, apakah buku ini layak koleksi karena harganya yang bagiku lumayan mahal juga. Setelah meminta pendapat dari beberapa orang teman, ditemukanlah jawaban kalau memang sebaiknya aku membeli buku ini karena faktor layak koleksi tersebut.

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Miss Peregrine's Home for Peculiar Children adalah buku debut pertama dari Ransom Riggs dan langsung ramai disambut oleh para pembaca muda di Amerika Serikat sana. Karena memang ditujukan kepada pembaca muda, sepertinya lebih ke arah middle grade ketimbang young adult, aku tidak memiliki prasangka untuk penggunaan bahasanya. Namun ternyata aku keliru. Buku ini menggunakan latar tempat dan waktu yang bisa dari masa lalu dan masa kini. Namun, Ransom Riggs memilih untuk menggunakan kosa kata yang tidak sederhana alias tidak familiar di kalangan pembaca yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, termasuk di dalamnya ya para pembaca di Indonesia. Aku mengakui, agak kesulitan untuk dapat menemukan makna dari apa yang tertulis dalam buku tersebut. Tetapi, jika pembaca terus membaca tanpa mempermasalahkan kesulitan tersebut, aku rasa pembaca bisa menemukan apa artinya.

sumber


Untungnya, meskipun latar waktunya ada juga yang berada di masa lampau, Ransom Riggs tidak menggunakan gaya bahasa yang sulit. Ia tetap menggunakan gaya bahasa kekinian tanpa ada majas-majas yang bisa membuat pembaca semakin bingung. Hal tersebut tentu saja berimbas pada bagaimana cara penyampaian cerita dalam buku ini. Karena tidak menggunakan gaya bahasa seperti layaknya tulisan-tulisan masa lampau, Ransom Riggs memukau pembaca dengan bagaimana detilnya ia bercerita. Semuanya diceritakan secara bertahap. Aku tidak membayangkan jika Ransom Riggs menggunakan gaya bahasa yang kuno plus menceritakan kisahnya dengan detil, mungkin saja pembaca malah akan menjadi bosan ketimbang tersihir untuk terus membaca.

Plot
Buku ini bermain-main dalam plot yang menarik. Sesekali ia bisa berada di masa lampau, dan sesekali ia bisa berada di masa kini. Kekuatan latar waktu tersebut yang membuat kesan horor dalam buku ini semakin kuat. Ransom Riggs menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai caranya ia bertutur. Dan semua bab tidak lain ya dari kacamata si tokoh utama.

Desain dan Tata Letak
Ransom Riggs menguatkan emosi dan kesan horor untuk buku ini dengan bantuan potongan-potongan foto kuno. Semuanya berwarna hitam putih. Bagusnya lagi, semua foto tersebut tersebar ke dalam semua bab sehingga bisa dikatakan setiap bab pasti ada foto kuno yang ikut memperjelas apa yang terjadi di masa lampau. Sebuah cara yang unik untuk "mengikat" pembaca ke dalam dunia imajinasi Ransom Riggs

Penokohan
Dalam buku ini ada beberapa tokoh, namun yang paling menonjol dan merupakan tokoh utama adalah Jacob.

Jacob, atau biasa dipanggil Jake adalah cucu dari seorang veteran peramg, Abe. Hubungan antara Jake dengan kedua orangtuanya tidak begitu baik sehingga ia pun lebih dekat dengan kakeknya. Ayah dan ibunya tidak terlalu menanggapi Jake secara serius. Hingga suatu tragedi mengerikan mendorongnya untuk pergi ke suatu pulau dan Jake-pun semakin masuk ke dalam dunia yang ia tidak pernah bayangkan sebelumnya. 

Jake merupakan tokoh yang kuat dan ia sendiri tidak menyadari hal tersebut. Seperti halnya Harry Potter ataupun Percy Jackson yang tidak tahu menahu asal usul dan silsilah keluarganya, ketika bertemu dengan Miss Peregrine, ia akhirnya mengerti mengapa kakeknya lebih dekat dengan dirinya ketimbang anggota keluarga yang lain. 

Isi Buku
Banyak resensi yang menuliskan kalau buku ini seperti film X-Men. Memang benar, meskipun cara mengemasnya berbeda. Buku ini memiliki kesan dark, selain karena didukung oleh foto-foto kuno hitam putih, Ransom Riggs juga pandai meramu kata-kata menjadi sesuatu yang seram dan emosional. 

salah satu foto kuno dalam buku // sumber

Tulisan Ransom Riggs memang mendetil, tetapi untungnya memiliki cara yang berbeda dengan tulisan Dan Brown. Aku tidak menemukan kebosanan ketika berusaha menyelesaikannya (kemungkinan juga karena aku tidak sabar untuk segera menonton trailernya), berbeda dengan ketika aku membaca tulisan Dan Brown (yang ujungnya aku membaca cepat ketimbang menghayati bacaan). 

Dari segi cerita, buku ini menarik. Ransom Riggs sengaja menceritakan dari awal meskipun ia menekankan pada permainan plot. Tetapi hal tersebut malah membantu pembaca untuk memahami apa yang terjadi pada Jake dan kakeknya, Abe. Pendekatan yang dilakukan Ransom Riggs sebenarnya sama dengan bagaimana Percy Jackson ataupun Harry Potter diperkenalkan kepada pembaca. Hanya bedanya, Ransom Riggs sangat menonjolkan kesan gothic pada buku ini.

Saran Shiori-ko:
Aku setuju jika temanmu mengatakan untuk membeli buku ini. Memang, dengan adanya foto-foto kuno yang membuat kesan gothic semakin terasa, dengan harga tidak sampai 200 ribu, ternyata buku ini punya cerita yang menarik untuk diikuti. 

No comments:

Post a Comment