Wednesday, November 18, 2015

Dark Places: Movie Adaptation Review

sumber


SPOILER ALERT to anyone who has not read the book or watched the movie yet

Sempat skeptis karena rating di IMDB hanya 6.3/10 padahal jajaran pemainnya tidak main-main. Tahu kalau buku Gillian Flynn yang ini dibuat menjadi film begitu Gone Girl dinyatakan sukses membuatku segera menyelesaikan membaca bukunya. Meskipun masuk ke Indonesia sangat terlambat ketimbang tanggal perilisan resminya, berkat tiket nonton gratis dari Gramedia Pustaka Utama, aku tahu alasan dibalik banyaknya kritik pedas terhadap film ini.


Bagi yang belum tahu seperti apa potongan filmnya, sila tengok video di bawah ini.




Perbandingan Film dengan Buku
Setelah aku berhasil menyelesaikan Gone Girl, aku akui buku tersebut mencekam, akhir ceritanya tidak terduga meskipun aura tegang yang dihasilkan tidak semenarik buku suspense yang pernah aku baca (sejauh ini baru tulisannya Tami Hoag yang membuatku bergidik ngeri), aku pun dengan percaya diri melanjutkan membaca Dark Places karena baru tahu bahwa filmnya akan segera rilis tahun 2015. Sayangnya, aku sudah meracuni imajinasiku dengan gambaran para aktor yang memerankan tokoh dalam kisah ini. Alhasil, aku membayangkan Libby Day, sang tokoh utama dalam Dark Places, seperti sosok Charlize Theron yang memerankannya. 

Sebagian besar yang ada di dalam film adalah apa yang tertulis dalam buku. Tentu, kita tidak bisa mengharapkan kalau film akan memasukkan semua detil dari buku. Bagiku, apa yang ditunjukkan dalam film setidaknya bisa membuat penonton tahu latar belakang Libby Day dan apa yang menjadi permasalahan dalam cerita tersebut. 

sumber
Salah satu hal yang dipertahankan ialah permainan plot. Seperti biasa, Gillian Flynn pandai membuat pembaca menghayati kisah dengan cara tata alur. Gillian Flynn bisa memberikan aura mencekam melalui potongan puzzle berupa plot itu tadi. Begitu pun filmnya. Plotnya bermain maju mundur. Sesekali menangkap gambar dari keadaan Libby Day saat ini, 30 tahun kemudian setelah kejadian tersebut, dan sesekali film menunjukkan apa yang terjadi sebenarnya sebelum kejadian di malam naas tersebut. Sama seperti di film. Hanya saja, karena masalah durasi, plot mundurnya tidak diberikan sedetil mungkin. Dan sayangnya, plot mundur itu seharusnya yang bisa membuat penonton film merasa bahwa Ben-lah yang bersalah (seharusnya, seperti bagaimana buku tersebut meyakinkan pembaca bahwa dalang dari pembunuhan itu adalah Ben). 

Selama film, penonton rasanya hanya sekedar tahu. Tidak sampai memahami secara mendalam apa yang terjadi di dalam batin Libby Day saat ini. Di buku, cukup dijelaskan kalau Libby sendiri merasa keyakinannya goyah ketika Lyle mengajaknya untuk menjadi bintang tamu dalam Kill Club (KC), menguak kembali masa lalunya yang kelam dan membongkar mindset kalau semua itu adalah ulah Ben. Semenjak perkenalan pertama Libby dengan Lyle, kemudian Lyle mengajaknya dalam KC, Lyle mengaku bahwa dirinyalah yang melakukan semua aksi di California pada tahun 1999, rasanya belum cukup mendalam untuk menjelaskan bagaimana hubungan Libby Day dan Lyle tidak hanya sekedar asal memecahkan masalah. Meskipun terpaut usia yang cukup jauh, Lyle (dalam buku) menunjukkan kalau dirinya cukup perhatian dengan Libby. Hingga akhir film pun, tampaknya hanya menyoroti bagaimana kondisi batin Libby begitu tahu kalau selama ini Diondra-lah yang menyebabkan Ben masuk penjara dan mendekam disana selama 28 tahun, tanpa ada satu scene yang menunjukkan kalau Lyle setelah itu merasa perlu melindungi Libby. 

Pergerakan filmnya pun terasa dipercepat, sangat dipercepat. Apalagi ketika sudah mencapai 1/4 akhir buku dimana seharusnya tidak langsung tiba-tiba Libby bertemu Krissi Cates, mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan kemudian petunjuk mengarah pada Polly alias Diondra dan putrinya, Crystal. Percepatan itu aku rasa sangat terasa apabila penonton sudah perah membaca bukunya. Pergerakan yang kurang mulus.

Sayang sekali, penonton hanya diberi semacam sneak peak dari hal-hal penting yang seharusnya saling terkait satu sama lain. 

How the Movie Goes
Aku jadi tahu mengapa rating di IMDB bisa begitu rendah padahal bukunya termasuk buku yang laris. Filmnya berjalan sangat-sangat membosankan. Bahkan aku beberapa kali merasa ngantuk, hanya ingin tidur. Bukunya khas Gillian Flynn, setiap bab selalu menawarkan hal yang menarik, membuat pembaca untuk terus membaca, tetapi tidak dengan film. Bukunya termasuk dalam genre suspense, filmnya malah bagiku masuk ke dalam kategori drama. Aku menyayangkan eksekusinya yang buruk untuk kelas cerita yang sudah bagus. Meskipun filmnya berusaha berjalan sesuai dengan bukunya, yakni melalui permainan plot, tetapi hal tersebut malah aneh jadinya. Malah kurang seru. Bukankah akan lebih menyenangkan jika penonton menggunakan kacamata Libby Day untuk menguak misteri di balik pembunuhan naas itu?

eh ada yang ganteng :3 // sumber


Untuk segi visual aku rasa tidak ada hal yang perlu dikomentari. Film ini menggunakan visual yang cukup bagus, mampu memberikan gambaran bagaimana kota Kansas City dengan tempat pertemuan KC, bar, rumah singgah, dan hal-hal yang biasa ditemui lainnya. Tidak ada penataan sinematografi yang bisa aku puji. Semuanya biasa saja. Tapi aku rasa penonton masih bisa melihat bagaimana Nicholas Hoult terlihat tampan walau tidak mendapatkan banyak porsi, dan juga gaya berpakaian Charlize Theron sebagai Libby Day dewasa (aku suka sepatunya!).

Penilaian Akhir

sayang sekali ya Tante // sumber
Sayang sekali, film ini buruk. Suspense-nya tidak terasa. Hilang entah kemana menjadi sebuah drama keluarga. Jauh lebih menyenangkan menonton Gone Girl. Padahal jajaran pemainnya tidak dapat diragukan lagi kualitas aktinya. Memasang Charlize Theron sebagai pemeran utama tampaknya terlalu kuat untuk sebuah eksekusi film yang buruk. Rating 2/5 deh.

No comments:

Post a Comment